Sukarno

Sukarno: “Jangan dengarkan asing”

Tertarik pada sebuah acara disalah satu TV swasta yang mengulas tentang kepemimpinan dimana Indonesia saat ini sedang dilanda krisis kepemimpinan karena sangat sedikit sekali figur-figur yang muncul ke permukaan karena kebanyakan yang ada saat ini adalah  sosok-sosok lama yang sudah sering terlihat dan publik pun merasa bosan dengan figur yang hanya “itu itu saja”. Mungkin banyak orang yang bertanya kenapa bangsa ini  dilanda krisis kepemimpinan, ini bisa dilihat dari pemimpin bangsa ini yang jauh dari cita-cita awal tujuan bangsa ini didirikan. Sepertinya ungkapan Bung Karno yang mengatakan “Jas Merah, jangan pernah sekali-sekali melupakan sejarah” memang benar.  Pemimpin bangsa ini lupa bahwa tujuan negara ini didirikan adalah agar bangsa ini menjadi besar dan mampu menjadi mandiri setelah sekian lama dijajah bangsa asing. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, pemimpin kita sepertinya masih “dijajah” bangsa asing dengan kepentingan-kepentingan atau karena uang yang dijanjikan oleh orang asing. Ini bisa dilihat dari banyaknya sumber daya alam bangsa ini yang dikelola oleh bangsa asing bukan dikelola oleh bangsa sendiri. Padahal dalam UUD 45 sudah dijelaskan bahwa alam beserta isinya dikuasai oleh negara dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan masyarakat luas. Tapi masyarakat tidak mendapatkan manfaatnya, justru yang terjadi malah sebaliknya. Kemiskinan, kelaparan dan keterbelakangan masih ada di daerah dimana Sumber Daya Alam (SDA) “dikeruk” sampai habis oleh perusahaan-perusahaan asing dan pemerintah hanya mendapatkan sedikit keuntungan. Dan hasilnya bisa ditebak, rakyat yang seharusnya mendapatkan manfaat dari kekayaan alam justru hanya bisa “melongo” melihat emas, tembaga, batu bara dan mineral berharga lainnya dikeruk oleh negara lain. Padahal jika SDA tersebut dikelola oleh bangsa sendiri dan diolah dengan sebaik-baiknya, maka hasil dari penjualan barang tambang tersebut dapat digunakan untuk tujuan pembangunan, pemerataan pendidikan, kesejahteraan rakyat dsb.

Lalu siapa yang pantas disalahkan atas  terpuruknya bangsa ini?

Pemimpin, ya pemimpin! Dalam hal ini presiden. Kenapa? karena presiden mempunyai hak dan wewenang untuk menentukan kesejahteraan rakyatnya, menentukan masa depan bangsanya. Tapi apa yang selama ini terjadi? sepertinya presiden  hanya tutup mata atas masalah ini, presiden sepertinya takut untuk menentang kebijakan dan kepentingan-kepentingan asing di bumi pertiwi. Berbeda dengan presiden pertama Indonesia, Sukarno yang dengan tegas menyatakan bahwa kekayaan alam harus dikuasai penuh oleh orang Indonesia untuk orang Indonesia. Sukarno pernah berkata “Jangan dengarkan asing!” jika kita ingin maju. Sukarno memang pantas menjadi presiden pertama Republik Indonesia, karena seorang Sukarno mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi sehingga beliau bekerja bukan karena uang, tetapi lebih kepada pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Kita butuh pemimpin yang tegas dan berani seperti Sukarno agar bangsa ini tidak lagi diperbudak oleh asing. Memang ketegasan adalah modal awal seorang pemimpin agar dapat memimpin sebuah bangsa agar bangsa ini dapat mandiri dan mendapat kehormatan dimata dunia. Kita tidak butuh pemimpin yang hanya menyukai pencitraan dan pencitraan karena tidak ada gunanya karakter pemimpin seperti itu yang hanya ingin “main aman” saja.

Semoga bangsa ini suatu saat nanti mempunyai seorang pemimpin yang mampu mensejahterakan rakyatnya dan mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi, yang dia bekerja bukan karena gaji tetapi lebih kepada pengabdiannya kepada bangsa dan negara.

Referensi : (1), (2)