“Kita VS Korupsi” adalah sebuah film yang bermula dari sayembara ide cerita dan workshop film oleh Transparancy International Indonesia bersama KPK, MSI, dan USAID. Produksi film ini terlaksana atas dukungan sejumlah sineas dan bintang ternama di negeri ini. Didalam film ini terdapat 4 cerita yang semuanya menggambarkan bagaimana modus-modus atau cara-cara yang dilakukan untuk melakukan praktek korupsi dan korupsi itu sendiri tidak jarang mengorbankan orang-orang yang ada disekitar kita.

Dimulai dari film Rumah Perkara yang menceritakan Yatna (Teuku Rifku Wikana), lurah, setuju menjual tanahnya kepada Jaya (Icang S. Tisnamiharja), seorang kontraktor. Halangannya adalah Ella (Ranggani Puspandya), janda yang tidak rela tanahnya dibeli. Terjadilah usaha-usaha, baik dari Yatna maupun anak buah Jaya, untuk mengubah niatan Ella. Yang pada akhirnya mengorbankan anak lurah dan janda tersebut akibat rumahnya dibakar oleh orang suruhan kontraktor.

lalu , Aku Padamu menceritakan Vano (Nicholas Saputra) dan Laras (Revalina S Termat) ingin menikah di luar sepengetahuan keluarganya. Sayangnya, tanpa kartu keluarga niat mereka urung terwujud. Seorang calo menawarkan jalan pintas, yang menciptakan dilema tersendiri di pasangan muda-mudi ini. Dan Laras teringat pada seorang guru saat masa kecilnya yang dipecat hanya karena tidak ingin membayar kepada kepala sekolah untuk menjadi seorang guru dan lebih memilih menjadi seorang badut hingga akhir hayatnya. Dan Laras mengurungkan niatnya untuk kawin lari.

kemudian Selamat Siang, Risa! menceritakan Arwoko (Tora Sudiro) berusaha hidup dan kerja secara jujur, walau teman-teman sejawatnya banyak melakukan korupsi. Tantangan muncul dalam wujud segepok uang pelicin, tepat ketika keluarganya terlilit kesulitan ekonomi. Tetapi disini Arwoko menunjukkan bahwa dirinya tidak dapat dibeli bahkan pada saat kesulitan ekonomi. Dan sifat ayahnya ditiru oleh anaknya ketika sudah besar pada situasi yang sama (ditawari segepok uang).

Dan Psssttt… Jangan Bilang Siapa-Siapa  menceritakan Ola (Siska Selvi Dawsen) membeli buku pada Eci (Nasha Abigail) dengan harga yang cukup mahal. Gita (Alexandra Natasha) pun jadi penasaran, kenapa harga buku yang dijual Eci lebih mahal dari pada yang dijual di toko buku. Gita lalu iseng-iseng bertanya tentang asal muasal harga buku tersebut. Tak diduga hasil iseng-iseng tersebut malah membongkar adanya praktek korupsi beruntun yang dilakukan oleh banyak pihak. Mulai dari sang guru, lalu orang tuanya Ola dan atasan ayahnya Ola. Tetapi ada 1 teman  Ola yang tidak melakukan korupsi untuk kepentingan diri sendiri, karena dia ingin berusaha jujur dan berusaha mendapatkan sesuatu dari hasil usahanya sendiri.


Dari keempat film diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa korupsi ada disekitar kita dan sangat dekat dalam kehidupan sehari-hari, karena korupsi ternyata sudah ada sejak kita tinggal dalam sebuah keluarga. Mulai dari melebih-lebihkan uang dari yang seharusnya, sampai alasan-alasan yang terkesan dibuat-buat untuk kepentingan diri sendiri. Di film ini menunjukkan bahwa korupsi juga dapat mengorbankan orang-orang yang kita cintai hanya demi uang. Jadi untuk menghindari praktek-praktek korupsi kita harus mulai dari diri sendiri, jujur pada diri sendiri dan berusaha untuk menolak pada setiap praktek korupsi yang ada disekitar kita. Walaupun pada kenyataannya korupsi itu sendiri sangat sering kita temui.

Referensi: (1),(2)