Danau Kawah Putih

Danau Kawah Putih

Untuk mengisi libur semester 5, kami berencana untuk mengunjungi tempat wisata di daerah Bandung, yakni Kawah Putih. Sebelumnya kami merencanakan untuk mengunjungi Tangkuban Perahu, tapi ditutup karena Tangkuban Perahu pada saat itu sedang tidak aman karena ada semburan abu vulkanik. Akhirnya kami memilih untuk ke Kawah Putih. Kami berangkat dengan 8 orang dalam 1 mobil yang di supiri oleh Priyo. Kami berangkat sekitar pukul 8 pagi, melewati Tol Bekasi Barat dan Tol Cipularang lalu keluar di Tol Kopo, Bandung Selatan. Keluar dari Tol Kopo akan ada pertigaan dan ambil kanan. Karena saya baru pertama kali melewati jalan tersebut, di sepanjang jalan saya melihat banyak toko, tapi yang menarik buat saya ada banyak toko emas yang berjejer disepanjang kanan  jalan, yang uniknya toko emas itu menggunakan teralis-teralis besi yang diletakkan di atas etalase mirip seperti di penjara, hahaha…

Setelah berjalan sekitar 30 km dan kurang lebih 2 jam perjalanan dari pintu keluar Tol Kopo akhirnya kami tiba di tempat parkir yang luas. Driver memutuskan untuk memarkirkan mobilnya tidak di Kawah Putihnya karena jika parkir di atas, biaya masuknya lebih mahal (150 ribu/mobil) dan 15 ribu/orang. Suasana tenang nan sejuk langsung menghampiri kami ketika sampai, senang rasanya bisa menghirup udara segar dan berharap udara seperti ini bisa ada di rumah🙂 (ini baru namanya AC alam).

Tempat Parkir

Tempat parkir menuju Kawah Putih

Tidak lupa untuk mengabadikan momen berharga (Baca: narsis :D).

Dari kiri ke kanan, Glorynta, Priyo, Ikha, Hetty.

Tiba ditempat parkir. Dari kiri ke kanan: Glorynta, Priyo, Ika, Hetty.

Setelah puas mengabadikan momen, kami langsung menuju antrian untuk membeli tiket. Untuk 1 orang dikenakan biaya 25 ribu, sudah termasuk tiket masuk dan angkot untuk pergi pulang. Mobil yang kami tumpangi seperti omprengan dengan suara knalpot yang menggelegar, cukup kontras dengan suara alam yang tenang. Perjalanan dari tempat parkir menuju Kawah Putih cukup menyenangkan karena jalan yang dilalui menanjak dan cukup terjal ditambah sisi kanan jalan ada tebing dan sisi kiri banyak pepohonan dipadu dengan udara yang sejuk menambah nyaman suasana (ya paling ngga buat menghilangkan stress sejenak :D).

Omprengan

Omprengan

Setibanya diatas, kabut dengan aroma belerang bercampur udara dingin sudah menyambut kami. Suasananya juga cukup ramai dengan wisatawan lokal maupun mancanegara. Pandangan hanya berjarak sekitar 50 meter karena kabutnya sangat tebal (padahal jarum jam menunjukkan angka 1). Bagi yang tidak membawa masker tidak perlu khawatir, karena di tempat parkir banyak penjual masker seharga 5 ribu rupiah (bukan promosi :D) atau yang tidak mau repot menggunakan masker cukup dengan menggunakan sapu tangan. Atau benar-benar ingin merasakan “harumnya” aroma belerang, silahkan buka hidung Anda lebar-lebar😀.

Sampai di Kawah Putih

Tiba di Kawah Putih

Berjalan sekitar 100 meter dari tempat kami berfoto, melangkah melewati jalan batu balok dan melewati sedikit tanjakan dan turunan, tibalah kami ditempat yang kami tuju. Ditempat ini kabutnya jauh lebih tebal dari tempat sebelumnya dan aroma belerangnya sangat menyengat (bagi yang tidak tahu bau belerang, baunya persis seperti petasan atau bahkan seperti air limbah domestik (baca: tinja). Sedikit informasi untuk menikmati obyek wisata ini disarankan tidak lebih dari lima belas menit, karena akan membuat mual, pusing, serta mengakibatkan mulut dan kerongkongan kering. Dan benar saja, saya dikawah tidak lebih dari 15 menit karena sudah merasa pusing, mual, keseleo, kecengklak, masuk angin, perut kembung, idung mampet, idung meler, batuk berdarah, mulut pecah-pecah.. hahaha😀 ngga lah, cuma pusing doang kok…

Kawah Putih

Kawah Putih, dari kiri ke kanan: Dio Fery Andriawan (penulis), Syafitrah Priyo Hastantyo (Driver), Rizki Purbowo, Ika Retnaningsih, Glorynta Sri Bulan Nadeak, Fauzi Arizal dan Juwi Kuswanda.

Sebenarnya jika saat itu keadaan cuaca cerah, kami bisa meng-explore (baca: berfoto ria) kawah ini lebih lama lagi tapi karena cuaca yang berkabut dengan sesekali diiringi hujan gerimis ditambah aroma belerang yang menyengat membuat kami hanya sekedar berfoto (sama seperti kebanyakan orang yang datang ke Kawah Putih biasanya untuk berfoto lalu upload ke FB, Twitter, Path, Foursquare dan sejenisnya). Padahal Kawah Putih pada zaman pemerintahan Belanda sempat dibangun pabrik belerang dengan nama Zwavel Ontgining yang artinya ‘Kawah Putih’. Kemudian pada zaman Jepang, usaha tersebut dilanjutkan dengan nama Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey yang langsung berada di bawah penguasaan militer Jepang (sumber).

Kawah Putih, Ciwidey. Bandung. 2013

Kawah Putih, Ciwidey. Bandung. 2013

Setelah puas mengabadikan momen untuk dikenang, selanjutnya kami kembali ke tempat parkir yang berada dibawah dengan menggunakan omprengan yang membawa kami ke daerah yang berkabut dan mengeluarkan aroma yang sangat menyengat ini. Perjalanan menuju tempat parkir bawah tidak semenarik ketika kami berangkat, mungkin karena jalan yang kami lalui sudah tahu medannya seperti apa jadi terasa tidak berkesan lagi. Tapi kami tetap menikmati rimbunnya pepohonan dan udara yang sejuk diiringi suara alam yang tenang😀 dan tentunya dengan suara knalpot yang menggelegar..

Perjalanan Menuju Kawah Putih (Bagian 2-Habis)