Setelah yakin dengan keputusannya untuk meng-install ulang komputer kasir. Akhirnya kami membuat backup untuk databasenya dengan dibantu lewat telepon dari  perusahaan pembuat software database tersebut dan menyimpannya kedalam flashdisk. Setelah itu kami meng-install ulang komputer server (komputer kasir 1) dan menunggu hingga proses instalasi selesai. Selama menunggu instalasi selesai kami diberi minuman dulu seperti biasa agar mata kami segar. Dan setelah proses instalasi selesai, kami mengecek komputer tersebut dan kami mendapati masih terdapat virus di komputer, akhirnya dengan terpaksa kami meng-install ulang kembali komputer tersebut dan kami pun menunggu lagi sampai proses installasi selesai. Dan ternyata kami sampai menginstall ulang beberapa kali komputer tersebut, inilah yang membuat kami sampai harus Menginap Semalam di Senayan City.

Selama kami menginap sambil mengerjakan kerjaan yang tidak selesai-selesai, kami dibuatkan 1 loyang besar pizaa seharga 80 ribu, saya dan Ilham masing-masing makan 2 potong pizza (lumayan kenyang untuk pizza ukuran segitu) dan yang membuat pizza itu adalah Mas Di sendiri, bukan koki (dalam hati, enak juga jadi pegawai direstoran ini, bisa bikin pizza sendiri. Itu juga kalo ga ketauan) dan tidak lupa, secangkir es krim. Yang paling saya tidak bisa lupa dari restoran ini adalah bau kotoran tikus yang cukup menyengat untuk restoran ini (masih lebih wangi warteg malah) tapi ketika restoran buka disemprot dengan pewangi ruangan sehingga baunya tidak tercium. Ada satu makanan cemilan yang saya tidak bisa lupa sampai sekarang, yaitu Nachos -sejenis keripik yang dilumuri lelehan keju-. Saking ingatnya dengan cemilan itu, jika salah satu dari kami (saya dan Ilham) bilang nachos pasti langsung ketawa karena mengingat kejadian ini. Dan ketika malam semakin larut, ada security yang berkeliling dan melihat restoran ini masih buka dan menanyakan kepada Mas Di kenapa restoran masih buka, Mas Di bilang sedang memperbaiki komputer dan minta izin agar diperbolehkan untuk menginap semalam saja. Mas Di langsung  “menyuap”  security dengan secangkir es krim agar diizinkan untuk menginap. (hahaha securitynya bisa juga disuap pake secangkir es krim). Kami juga sempat ditawari untuk makan nasi goreng yang dibuatkan oleh Mas Di, tapi saya dan Ilham menolaknya karena masih kenyang dengan 2 potong pizza + nachos tadi (lagian masa mau makan mulu, kan ga enak juga. Sampai-sampai pegawai satunya sempat menertawakan kami). 

Menjelang pagi temannya Mas Di pulang dulu karena pada hari itu bukan jadwalnya dia, sedangkan kami masih sibuk mengotak-atik mesin kasir agar dapat terhubung ke komputer. Jadi ketika ada pesanan, komputer akan membuat daftar pesanan dan mencetak hasilnya di mesin cetak sesuai dengan kompartemen yang ada, misalnya di kompartemen bartender maka daftar produk di bar yang dibeli akan tercetak di mesin cetak bartender, dan untuk mesin cetak di ruang dapur dan komputer server juga sama. Tapi untuk mesin cetak yang ada di dapur ternyata mesin cetaknya error. Jadi mesin cetak yang berfungsi secara sempurna hanya di mesin cetak kasir yang ada dikomputer server. Kami benar-benar dibuat kewalahan dengan mesin-mesin yang baru kami kenal ini, mesinnya banyak yang tidak berfungsi tetapi kami tidak diberitahu oleh Mas Di, inilah yang membuat kami kewalahan karena kami pikir mesinnya rusak gara-gara kami.


– Menginap Semalam di Senayan City (Bagian 4-Habis)