Masuk ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu SMK. Awalnya saya tidak ingin masuk sekolah kejuruan tapi karena Ayah saya menginginkannya maka saya turuti saja keinginannya. Pada saat pendaftaran sekolah, saya menginginkan masuk SMK Pembangunan (SMK 26) tapi karena nilai saya tidak mencukupi untuk masuk kejurusan komputer, maka saya berakhir dipilihan kedua yaitu SMKN 5. Disini petualangan yang mengesankan baru dimulai.

SMK Negeri 5 Jakarta

SMK Negeri 5 Jakarta

Sejarah Singkat
SMK Negeri 5 yang dahulu disebut STM 3 alias Bonser adalah sekolah yang terletak dijalan Pisangan Baru Timur VII Matraman, Jakarta Timur. Didekat jalan ini ada sebuah jalan kecil yang bernama jalan Kebon Sereh (inilah awal mula nama Bonser dipilih) dan sekolah ini dekat dengan stasiun Jatinegara, pasar Enjo, pasar induk Cipinang dan LP Cipinang. Sekolah yang berdiri sejak 1956 ini sebelum namanya berubah menjadi SMKN 5 adalah sekolah yang terkenal karena sering tawuran dengan sekolah lain. Sudah cukup banyak korban baik yang terluka bahkan sampai meninggal. Ada istilah “nyari kuping” saat sekolah ini ulang tahun, entah apa maksud “nyari kuping” itu saya tidak tahu. Namun sejak berubah nama menjadi SMKN 5, sedikit demi sedikit kebiasaan itu mulai luntur dan digantikan dengan prestasi yang cukup membanggakan, diantaranya: meraih medali emas dalam ASEAN Skill Competition pada tahun 2012, mewakili DKI Jakarta dalam Skill Contest tingkat Nasional yg diadakan oleh PT Topindo Atlas Asia (TOP 1) di Yogyakarta pada tahun yang sama dan juara LKS tingkat DKI di beberapa tingkat kejuruan dan masih banyak lagi prestasi yang lainnya.

Para siswa SMKN 5 sedang merakit TV LCD yang dihadiri oleh Menteri UKM, Syarief Hasan.

Para siswa SMKN 5 sedang merakit TV LCD yang dihadiri oleh Menteri UKM, Syarief Hasan.

Sekolah dan Kawan
Saat kelas satu, saya masih harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang jauh berbeda dari sekolah sebelumnya karena di SMK mayoritas dari siswanya adalah laki-laki. Peraturannya pun dibuat agak sedikit berbeda dengan SMA, terutama pada pakaian. Di SMA para siswa diharuskan menggunakan atribut lengkap seperti topi (pada saat upacara) dan dasi, tetapi di SMKN 5 tidak ada peraturan yang mengharuskan para siswanya menggunakan atribut lengkap.

Saya mempunyai beberapa orang teman yang kemana-mana selalu bersama, mereka adalah Aripin (panggilannya Ipin) dan Maulana (panggilannya Maul alias Qnoy alias Mul tapi saya memanggilnya Maul), boleh dibilang kami ini seperti tiga serangkai. Ipin dengan sifatnya yang bersahabat dan bisa diajak kerjasama membuat saya cukup menyukainya (bukan berarti saya homo) karena dia selalu mengikuti saya kalau kemana-mana (awal mula saya kenal dengan Ipin adalah dari game online yang saya mainkan) dan Maul dengan sifatnya yang selengean, suka membuat orang tertawa, kadang memberikan nasehat-nasehat dan yang paling  penting dia lebih mementingkan kepentingan bersama. Dua orang dengan tipe seperti itu yang saya sukai karena tidak membuat suatu persaingan, tidak berusaha menjatuhkan teman, selalu menyemangati dan memberikan solusi apabila ada salah satu dari kami mempunyai masalah.

Ipin adalah teman saya yang paling dekat saat kelas satu, dia anak kedua dari empat bersaudara. Ayahnya adalah seorang supir bajaj yang sudah cukup tua dan Ibunya (maaf) seorang pemungut beras di pasar beras Cipinang. Saya sering main kerumahnya yang berada tepat di tengah-tengah kuburan Cina, nongkrong diatas kuburan menjadi hal biasa yang kami lakukan. Tidak ada perasaan takut apalagi menyeramkan duduk diatas kuburan. Karena seperti yang kita tahu kuburan orang Cina itu besar-besar dan diatas makamnya itu ada rumput. Kuburan yang berada tepat disebelah rumahnya Ipin selalu dirawat dan dibersihkan oleh keluarganya.

Ketika kuburan menjadi basecamp

Ketika kuburan menjadi basecamp

Sekolah dan Kenangan masa Lalu (Bagian 3-Habis)