Maul, saya tidak terlalu mengenal keluarganya karena dia sendiri jarang bercerita mengenai keluarganya. Yang saya tahu dia mempunya seorang kakak perempuan, Ayahnya adalah seorang supir dan Ibunya seorang penjual sayuran dirumahnya. Baru beberapa hari yang lalu saya melawat kerumahnya karena Ayahnya telah meninggal karena sakit pada usia 60 tahun. Saya baru mulai dekat dengannya pada saat kelas dua.

Pencarian Dimulai
Saat kelas dua semua siswa wajib untuk bekerja di sebuah perusahaan atau bengkel yang sesuai dengan jurusan kami yaitu teknik mekanik otomotif, istilahnya itu Praktek Kerja Lapangan (PKL). Ada semacam test untuk seleksi masuk ke perusahaan Astra, testnya mirip seperti anak SMA yang akan memilih jurusan IPA atau IPS. Disini saya gagal diterima pada saat interview. Tidak putus asa karena gagal PKL di perusahaan Astra, saya bersama dengan beberapa teman termasuk Ipin dan Maul mencari-cari disekitar kota Jakarta bengkel atau perusahaan otomotif yang bersedia menerima para siswa PKL. Pencarian dimulai di daerah Otista, ada bengkel yang cukup besar tapi sayangnya kami telat karena ternyata sudah ada siswa PKL dari sekolah lain yang sedang PKL disitu. Pencarian kami hentikan karena waktu sudah telalu sore. Beberapa hari kemudian kami ke dealer-dealer mobil seperti Isuzu, Daihatsu, Nissan, Toyota, United Tractor dan terakhir Misubishi. Memang tidak mudah untuk mencari tempat PKL jika kami sendiri yang mencarinya. Pihak sekolah memang mencarikan kami tempat PKL, tapi kami ingin mencari tempat PKL sendiri agar sesuai dengan jurusan kami dibidang otomotif.

Dari lima puluhan anak, hanya tinggal tersisa dua puluhan saja yang tersisa dikelas selebihnya sudah PKL. Disini rasa malas mulai menyerang karena kelas menjadi sepi padahal kalau kelas penuh lebih semangat belajarnya. Saya dan Lutvi akhirnya dipanggil untuk segera PKL di PT Kawasaki Motor Indonesia, Pulogadung Jakarta timur. Saya diantar ke perusahaannya oleh Bu Ismaninggar (panggilannya Bu Is), Bu Is mendapat channel dari alumni SMKN 5 yang bekerja disitu, Pak Badroni kalau saya tidak salah namanya.

Praktek Kerja Lapangan (PKL)
Selama saya PKL di Kawasaki saya mendapat beberapa teman baru yang berasal dari berbagai sekolah, ada yang dari Dinamika Pembangunan, Penggilingan Jakarta timur dan SMK Ristek, Pulogebang Jakarta Timur.

PKL di Kawasaki

PKL di Kawasaki, dari kiri ke kanan: Dika, Angga, Anum, Septiyan dan Penulis

Pada saat PKL di Kawasaki saya bekerja di bagian painting yang kerjanya meng-amplas body motor, ngecat tembok, menata body spareparts  di gudang, membersihkan hunger (gantungan tempat body motor yang akan di cat) dan membuang limbah cat. Walaupun saya PKL tidak sesuai dengan bidang keahlian otomotif tapi saya tetap bersyukur. Karena saya masih lebih beruntung dari teman-teman kelas saya yang lain. Saya PKL disini mendapat makan, snack, dan juga uang bensin tiap bulannya. Setelah dua bulan PKL di Kawasaki akhirnya saya kembali ke kelas.

Ini Budi
Budi panggilannya, anak yang satu ini memang paling sering membuat cerita. Mulai dari ditampar menggunakan kunci pintu oleh Pak Wowon (guru komputer) karena pada saat KBM kedapatan membuka situs porno, sampai akhirnya disuruh buka baju dan hanya menggunakan celana panjang saja. Lalu ada kejadian ketika bis yang ditumpanginya dilempari batu oleh anak dari sekolah lain hingga dia terluka dibagian tangan dan pelipisnya dan tentu saja orang tuanya sangat khawatir. Keesokan harinya kami satu kelas inisiatif untuk datang menjenguk Budi dirumahnya sebagai rasa kepedulian dan kesetiakawanan, akhirnya kami semua sepakat untuk menjenguknya tanpa sepengetahuan guru. Karena hal ini, guru kami menjadi salah paham karena dikira kami ingin balas dendam padahal tidak demikian, dan pada keesokan harinya kami sekelas diinterogasi oleh Pak Komar (“artis” disekolah). Setelah diberi penjelasan akhirnya para guru mengerti dan pada akhirnya kami tidak jadi dihukum.

Sebenarnya masih banyak cerita dan pengalaman saya dengan Budi, tapi kalau diceritakan disini bisa panjang ceritanya😀.

Akhir Kata
Sebelum kami semua lulus saya bersama beberapa teman saya termasuk Maul dan Ipin hampir setiap hari jumat selalu sholat jumat di mesjid At-Tien TMII padahal jarak dari sekolah kami ke Taman Mini cukup jauh. Saya tidak tahu pada saat itu kenapa sampai berpikiran sholat di At-Tien yang jaraknya jauh. Tapi berkat jalan-jalan yang jauh itu saya jadi lebih mengenal jalan-jalan di sekitar Jakarta Timur.

Dua orang dari Filiphine (anak angkat Bu Is) foto bersama dengan kami.

Dua orang dari Filiphine (anak angkat Bu Is) berfoto bersama.

Pengalaman seperti ini tidak akan bisa terlupakan dan sampai saat ini kami masih kompak untuk selalu mengadakan kumpul-kumpul seperti pada saat acara buka puasa bersama tahun lalu.

Rasa kepedulian, kebersamaan dan kesetiakawanan pada masa ini sangat kuat bahkan sampai hari ini. Walaupun ada beberapa orang yang tidak merasakannya tapi itu hanya sebagian kecil. Hingga hari ini kami semua masih tetap kompak.