Tikus, binatang pengerat yang terkenal didalam dunia perpolitikan kita sangat identik dengan koruptor. Seperti sifat tikus yang selalu mengendap-ngendap dan mencuri untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya, koruptor pun demikian. Hanya bedanya tikus yang sebenarnya berpenampilan kotor, senang bermain di tempat yang jorok dan hanya mencuri makanan tanpa banyak merugikan seseorang, sedangkan kalau “tikus” yang satu lagi berpakaian rapih, menggunakan setelan jas lengkap dengan dasinya, senang dengan uang, tempat “bermainnya” di instansi pemerintah mulai dari yang paling bawah setingkat RT sampai ke gedung (yang katanya) tempat wakil rakyat bekerja dan kerugian yang ditimbulkan dapat membuat sebuah negara hancur. Korupsi adalah nama “pekerjaan” yang membuat seseorang itu disebut koruptor. Dan korupsi konon katanya merupakan budaya negatif dari bangsa ini.

Tikus berdasi para pencuri uang rakyat

Tikus berdasi para pencuri uang rakyat

Pada gambar diatas diperlihatkan tiga ekor tikus yang sedang menikmati makanan hasil dari korupsi yang mereka lakukan dan diatas meja terdapat sebuah daging dengan ukiran peta Indonesia diatasnya. Peta Indonesia diatas daging dapat dikatakan bahwa sasaran korupsi mereka meliputi seluruh bagian negara Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Tetapi mereka tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang mencuri dengar percakapan mereka ketika sedang asik mengobrol. Salah satu tikus mengatakan “…waspadai trio penegak hukum baru…”, yang dimaksud adalah tiga orang penegak hukum yang baru terpilih (pada tahun 2011), mereka adalah Ketua KPK Busyro Muqoddas, Jaksa Agung Basrief Arief dan Kapolri Timur Pradopo. Mereka diharapkan dapat membongkar kasus-kasus besar seperti Century dan makelar pajak Gayus Tambunan. Tikus lainnya mengatakan “tenaaang… beking kita kuat juga bro…”, sudah jelas mereka berani melakukan korupsi karena ternyata mereka mempunyai beking atau pejabat dan aparat yang turut bermain dalam pusaran korupsi. Para koruptor tentu saja tidak melakukan korupsi sendirian tetapi melakukannya secara berjamaah dan terorganisir dengan rapih. Ini terbukti dari beberapa kasus yang terungkap ke publik.

Ada sebuah peribahasa yang mengatakan “sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga”, dan terbukti ketika para koruptor melakukan “pekerjaan kotornya”, para penegak hukum khususnya KPK mampu mencium perbuatan korupsi mereka. KPK dapat mengungkap sebuah kasus korupsi lewat laporan masyarakat, dokumen-dokumen, keterangan koruptor yang tertangkap dan menggunakan alat penyadap kepada orang-orang yang dicurigai terlibat tindak pidana korupsi. Dan biasanya ketika seseorang sudah ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut melakukan korupsi. Karena cukup dengan dua alat bukti dan keterangan saksi-saksi, KPK sudah dapat menetapkan seseorang sebagai tersangka.